Connect with us

Balapan Motor

Bos Monster Energy Sebut Kehadiran Pembalap MotoGP Ini Ubah Atmosfer Timnya

Published

on

Warungsports – Monster Energy Yamaha kembali ke jalan juara pada MotoGP 2021.

Usai musim berat pada MotoGP 2020, Monster Energy Yamaha sukses mengirimkan pembalapnya sebagai juara dunia.

Prestasi pada MotoGP 2021 ini tentu membuat Bos Monster Energy Yamaha, Massimo Meregalli, semringah.

“Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana puasnya kami,” tutur Massimo Meregalli membahas musim MotoGP 2021 dilansir Juara.net dari Speedweek.

“Kami sebelumnya lalui musim yang berat. Tetapi pada tahun 2021, kami kembali menemukan jalan untuk konsisten,” sambungnya.

Bicara soal Monster Energy Yamaha tentu takkan jauh-jauh dari membahas pembalap MotoGP asal Prancis, Fabio Quartararo.

Sosok di balik kebahagiaan Monster Energy Yamaha pada MotoGP 2021 itu praktis mendapatkan kredit terbesar dari Massimo Meregalli.

Menariknya, Massimo Meregalli juga membeberkan bahwa kehadiran Fabio Quartararo telah mengubah atmosfer dari timnya.

“Dia (Fabio Quartararo) muda dan langsung cepat saat baru pertama kali bergabung,” kata Massimo Meregalli.

“Saat dia bergabung dengan kami, atmosfer di box tim langsung berubah.”

“Dia mampu mengendalikan tekanan dan sangat fokus. Dia selalu ada.”

“Sangat luar biasa kami mampu sampai tujuan padahal masih tahun pertama. Sungguh tak bisa dipercaya,” sambungnya.

Seperti yang diungkapkan oleh Meregalli, Quartararo memang baru pada MotoGP 2021 bergabung ke Monster Energy Yamaha.

Kendati demikian, Quartararo langsung nyetel dengan motor dan mulai “kesetanan” hingga jadi juara MotoGP 2021.

Total, Quartararo naiki podium dalam 10 seri yang lima di antaranya adalah podium pertama.

Selanjutnya, perjuangan Quartararo bersama Monster Energy Yamaha bakal berlanjut ke MotoGP 2022.

Sempat diterpa bongkar pasang pembalap menyusul hengkangnya Maverick Vinales, Meregalli tetap optimistis menyambut kompetisi musim depan.

Dia percaya bahwa duet Fabio Quartararo dan Franco Morbidelli bakal gacor pada MotoGP 2022.

“Musim ini punya dua wajah karena kami juga harus terpaksa berpisah dengan Maverick Vinales,” katanya.

“Kemudian kami membalap dengan Cal Crutchlow dan akhirnya Franco Morbidelli bergabung.”

“Dia (Franco Morbidelli) memang belum 100 persen. Cedera lututnya juga butuh waktu.”

“Meski begitu, kami percaya bahwa duet tersebut bakal memetik hasil baik juga pada musim 2022,” tutup Meregalli penuh harap.

Advertisement Smiley face
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Balapan Motor

Andrea Dovizioso Diragukan Bisa Langsung Melejit pada MotoGP 2022

Published

on

By

Warungsports – Andrea Dovizioso baru saja comeback di dunia balapan MotoGP bersama tim satelit Yamaha pada akhir musim 2021.

Sempat menguji motor RS-GP milik Aprilia, Andrea Dovizioso menegaskan tekadnya menjadi tandem terakhir Valentino Rossi.

Berstatus sebagai tiga kali runner up MotoGP, pembalap 35 tahun itu kini bersiap membuka lembaran baru bersama Yamaha.

Pembalap Italia tersebut datang ke Petronas SRT disaat tim itu sedang dalam posisi yang rumit.

Dua pembalap mereka, Valentino Rossi dan Franco Morbidelli tidak berhasil mencapai hasil yang diharapkan.

Selama satu musim itu, Valentino Rossi sangat kesulitan untuk bisa bersaing dengan pembalap lain.

Sedangkan Franco Morbidelli mengalami cedera dan membuatnya absen cukup lama.

Walau beberapa kali menyiapkan pembalap pengganti, mereka tak bisa berbuat banyak saat berduet dengan Valentino Rossi.

Pada akhirnya Dovizioso datang menggantikan Franco Morbidelli yang pada musim itu juga dipromosikan ke tim utama menggantikan Maverick Vinales.

Dovizioso turun balapan di sisa lima seri terakhir MotoGP 2022, dirinya berhasil mengumpulkan 12 poin dalam lima balapan.

Situasi ini tentunya jauh berbeda dari apa yang terjadi pada musim 2020.

Pada musim 2020 pembalap satelit Yamaha, Fabio Quartararo dan Franco Morbidelli bisa bertarung dalam perebutan gelar juara.

Namun, apa yang terjadi saat ini sepertinya akan sulit jika ingin kembali mencapai hal itu.

Ramon Forcada menjelaskan alasan apa yang menyebabkan pembalap Petronas SRT tidak bisa tampil kompetitif musim lalu.

“Hal pertama adalah kami memiliki motor yang sama dari tahun sebelumnya, sementara yang lain terus melakukan peningkatan,” kata Forcada dilansir Bolasport.com dari Motosan.

“Kemudian ada masalah pada fisik Morbidelli dan sulit untuk mencari pengganti yang tepat untuk runner-up musim 2020 itu,” ujarnya.

Kini, menghadapi musim 2022 ini dirinya akan bekerja sama dengan Andrea Dovizioso agar bisa kompetitif lagi.

Kerja keras harus dilakukan lantaran Ramon Forcada sepenuhnya memahami bahwa Andrea Dovizioso tak bisa langsung melejit di atas YZR-M1.

Terlebih YZR-M1 memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan motor Desmosedici GP yang telah lama ditunggangi Andrea Dovizioso.

“Dia adalah orang yang memiliki banyak informasi, yang telah berada di MotoGP selama bertahun-tahun dan itu sangat bagus,” kata Forcada.

“Bagi Dovizioso, Yamaha adalah motor yang sama sekali berbeda jika dibandingkan dengan Ducati.” Ujarnya.

“Dia tahu apa yang dia butuhkan untuk menjadi cepat, tetapi dia memiliki kesulitan untuk melakukannya,” ucap Forcada.

Terlepas dari kenyataan itu, Forcada yakin dengan pengalaman yang dimiliki, Andrea Dovizioso bisa beradaptasi dengan cepat.

“Dia sangat pekerja keras, tetapi di atas semua itu dia sangat memperhatikan detail motor, di mana detailnya penting dan membantu Anda menjadi cepat,” tutur Forcada.

“Dia bekerja berjam-jam melihat data, mempelajarinya, membandingkannya dan mencari cara terbaik,” ujarnya.

“Saya tidak tahu apakah dia bisa langsung melaju kencang, saat ini, kami belum menguji motor pabrikan 2022,” kata Forcada.

“Masalahnya jika motor Anda tidak membaik, maka hasilnya menjadi lebih buruk nantinya,” ujarnya.

Persaingan MotoGP sangat meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terlebih dengan kedatangan pembalap-pembalap muda potensial.

“Apa yang harus kita lihat sekarang adalah apa yang akan dilakukan pabrikan lain dan apa yang akan dilakukan pembalap muda,” kata Forcada.

“Kami telah melihat bahwa mereka pada tahun 2021 telah melakukannya dengan sangat baik,” ujarnya.

Meski begitu, Dovizioso juga akan mengambil langkah maju dengan motor terbaru.

“Akan tetapi, bahwa motor baru akan menyelesaikan semua masalah itu tidak benar. Kami tetap harus bekerja keras,” ujar Forcada.

Continue Reading

Balapan Motor

Meski Diragukan, Marc Marquez Tetap Menjadi Favorit Juara MotoGP 2022

Published

on

By

Warungsports – Livio Suppo senang atas perkembangan Marc Marquez selama masa pemulihan diplopia.

Kecelakaan motocross saat latihan membuatnya mengalami masalah penglihatan ganda dan tidak bisa mengendarai sepeda motor cukup lama.

Setelah dua bulan, akhirnya Marquez diizinkan oleh Dokter untuk kembali menjajal sepeda motor dengan ketentuan dari tim medis.

Pekan lalu, Marc Marquez telah mampu mengendarai motor jalanan RC213V-S di Sirkuit Algarve, Portimao, Portugal.

Marquez merasa senang lantaran tidak lagi mengalami masalah penglihatan pada matanya ketika berkendara.

Selang berapa hari, Marquez kembali ngegas di MotorLand Aragon dengan menggunakan motor dengan kapasitas mesin yang lebih kecil.

The Baby Alien kembali berlatih dengan menggunakan motor Honda CBR600RR.

Livio Suppo mengatakan, hasil latihan yang dilakukan beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa Marc Marquez mungkin bisa hadir pada tes pramusim Februari nanti.

“Sungguh, saya pikir begitu. Tampaknya dia melakukan semua yang dia bisa untuk siap pada musim ini,” kata Suppo dilansir Bolasport.com dari Motosan.

“Bebas dari masalah penglihatan mata yang bisa teratasi tanpa perlu menjalani operasi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Livio Suppo mengatakan, Marc Marquez masih menjadi pembalap terkuat selama satu dekade terakhir.

“Dia gagal dalam mempertahankan gelar juara akibat cedera, mudah-mudahan dia bisa kembali ke performa terbaiknya karena dia masih sangat layak mendapatkan itu,” ujar Suppo.

Meski Marquez belum bisa dipastikan tampil pada tes pramusim dan balapan pertama di Qatar oleh Tim Repsol Honda.

Livio Suppo tetap optimis bahwa Marquez tetap menjadi favorit peraih gelar juara dunia musim ini.

“Tahun lalu dia memenangkan tiga balapan tanpa berada dalam kondisi sempurna, dan dengan perkembangan motor yang meningkat,” ucap Suppo.

Marc Marquez memang memenangi tiga balapan pada musim 2021 dan bisa bersaing secara hebat dengan pembalap lain.

Terlihat dari battle epik antara Marc Marquez dan Fransesco Bagnaia di Motorland Aragon, dirinya meladeni duel sengit dengan gaya balapnya yang dikenal agresif.

Namun beberapa pengamat, masih meragukan masa depan Marc Marquez yang bisa tampil 100 persen akibat rentetan cedera yang dialami.

Akan tetapi, bagi Suppo, Marquez tetap menjadi kandidat kuat untuk meraih gelar juara dunia.

“Bahkan jika dia tidak kembali seperti dulu, dia akan menjadi kandidat potensial untuk gelar,” kata Suppo.

Menurutnya, pembalap 28 tahun itu luar biasa, tidak mudah bagi pembalap lain untuk bisa bersaing di barisan terdepan jika mengalami cedera seperti yang Marc alami.

“Begitulah bakat yang dia punya, akan sulit bagi pembalap lain untuk bisa bersaing jika tidak dalam kondisi prima,” lanjut Suppo.

Sementara itu, Fabio Quartararo dan Fransesco Bagnaia akan menjadi saingan terbesar Marc Marquez dalam perebitan juara dunia MotoGP 2022.

Fabio Quartararo berhasil meraih juara dunia di musim pertamanya bersama tim Yamaha pabrikan.

Meski begitu, ada keraguan karena hanya dia yang bisa berkembang disbanding pembalap Yamaha lainnya.

“Quartararo menurut saya sedikit terlalu khawatir tentang kekuatan Yamaha,” kata Suppo.

Sedangkan Bagnaia merupakan pembalap yang cukup kuat dengan Desmosedici miliknya.

Perolehan hasil mengesankan musim lalu juga menjadi saingan terberat bagi Marc Marquez, bahkan murid Valentino Rossi telah mengalahkan Marquez satu kali musim lalu.

“Tentunya Pecco, menyelesaikan musim sebagai pembalap terkuat di trek,” kata Suppo.

Namun permasalahan lain yang dikhawatirkan eks manajer Tim Honda itu adalah ancaman penularan virus varian baru covid-19.

“Ini risiko yang harus dihadapi saat ini, jika pembalap tertular virus ini, tentunya akan menjadi masalah besar bagi pembalap dalam persaingan juara dunia,” kata Suppo.

Continue Reading

Balapan Motor

Ditanya Penerus Valentino Rossi, Bos MotoGP Garuk-garuk Kepala

Published

on

By

Warungsports – Setelah 26 tahun berkarier di pentas dunia, Valentino Rossi memutuskan untuk pensiun sebagai pembalap MotoGP.

Keputusan tersebut membuat Valentino Rossi tidak akan berada dalam daftar kontestan MotoGP 2022.

Kehilangan sosok berjuluk The Doctor itu memunculkan kekhawatiran bahwa MotoGP akan kehilangan daya tariknya.

Pandangan itu cukup beralasan mengingat Valentino Rossi memliki karisma yang sudah terpancar selama bertahun-tahun.

Tak sekadar ikon, Valentino Rossi merupakan salah satu pembalap berprestasi selama ada di grid MotoGP.

Sembilan gelar juara dunia dibukukan Rossi di semua kelas balap sejak debutnya pada tahun 1996 di kelas 125cc.

Valentino Rossi membukukan kemenangan terbanyak di kelas tertinggi hingga saat ini dengan torehan 89 kemenangan.

Setelah Rossi tidak ada lagi di MotoGP, siapa pembalap yang bisa mencapai level seperti dia?

Pembahasan mengenai penerus Rossi sudah sering dianalisis oleh berbagai pihak dan memunculkan beberapa nama potensial di masa depan.

Kandidat pertama penerus Rossi adalah Marc Marquez (Repsol Honda).

Marc Marquez adalah sosok yang memenuhi syarat paling dekat dengan Rossi, yaitu berprestasi dan menghibur.

Hingga sejauh ini, Baby Alien sudah menorehkan delapan gelar juara dunia di semua kelas balap.

Berikutnya ada Fabio Quartararo yang menghidupkan kembali tradisi juara Yamaha, tim pabrikan yang paling lama diperkuat Rossi.

Fabio Quartararo sukses menjadi juara dunia MotoGP 2021 setelah pasukan Iwata puasa gelar kurang lebih selama enam tahun.

Selain pembalap Prancis tersebut, perhatian khusus diberikan kepada pembalap Akademi VR46 yang merupakan anggota sekolah balap besutan Rossi.

Ada empat pembalap Akademi VR46 yang berlomba di MotoGP 2022.

Mereka adalah Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo), Franco Morbidelli (Monster Energy Yamaha), Luca Marini dan Marco Bezzecchi (Mooney VR46 Racing Team).

Selain sama-sama pernah menjadi jawara di Moto2, Francesco Bagnaia dan Franco Morbidelli telah menunjukkan kapasitasnya sebagai pembalap jempolan di MotoGP.

Morbidelli dan Bagnaia pernah menyandang runner-up MotoGP dengan masing-masing pada 2020 dan 2021.

Dari beberapa nama tersebut yang sudah dipaparkan, Carmelo Ezpeleta kemudian memberi tanggapan soal siapa yang pantas menjadi penerus Rossi.

Alih-alih menyebutkan satu nama, pria Spanyol itu justru garuk-garuk kepada lantara tak bisa menyebut siapa yang akan menjadi bintang MotoGP selanjutnya.

Bos MotoGP itu menanggap bahwa tugasnya bukan untuk menciptakan bintang, melainkan membuat ajang balapnya menjadi makin kompetitif.

“Saya tidak tahu. Saya tidak tahu apakah akan ada Valentino Rossi yang baru, tetapi mungkin tidak akan ada yang seperti Valentino,” tutur Carmelo Ezpeleta, dilansir BolaSport.com dari Tuttomotoriweb.

“Bukan kewenangan kami menciptakan Valentino Rossi yang baru. Dia menciptakan dirinya sendiri, datang dan pergi ketika dia pikir harus berhenti.”

“Kami harus berusaha membuat kejuaraan menjadi makin kompetitif. Tugas kami bukan menciptakan bintang lebih baik daripada yang lain,” tambahnya.

Continue Reading

Balapan Motor

Paket Komplet Ducati Bikin Lawan Pusing 8 Keliling pada MotoGP 2022

Published

on

By

Warungsports – Ducati menatap musim baru MotoGP sebagai salah satu favorit dalam kompetisi perburuan gelar.

Tahun lalu Ducati memang tampil moncer dengan koleksi 11 pole position (paling banyak), 24 podium (paling banyak), dan 8 kemenangan (paling banyak).

Pada seri terakhir Ducati bahkan mengunci tiga posisi teratas dalam kualifikasi dan lomba.

Padahal Sirkuit Ricardo Tormo yang menjadi arena lomba bukan lintasan yang bersahabat bagi Ducati sebelumnya.

Ducati bisa dibilang memiliki paket komplet pada MotoGP 2021.

Andal dalam meyalip, cek. Cepat saat kualifikasi, cek.

“Sangat sulit bagi kami untuk menyalip mereka,” kata Fabio Quartararo (Monster Energy Yamaha) yang keluar sebagai juara dunia, dilansir dari Crash.

“Sepertinya mereka membuat kemajuan besar dan tidak hanya dengan mesinnya. Bagaimana mereka cepat dalam satu lap saja maupun lomba.”

Menguasai posisi start memang krusial dengan persaingan yang makin ketat antar-pembalap.

Tenaga besar Ducati mempersulit hidup pembalap lain, terutama dari pabrikan yang lebih mengandalkan keunggulan ritme seperti Yamaha atau Suzuki.

Beban Suzuki pada musim 2020 masih lebih ringan karena mereka tahu pembalap Ducati condong kedodoran pada akhir lomba.

Kini, semuanya berubah. Keunggulan pabrikan Hamamatsu dalam memperpanjang usia ban seolah tidak terlihat.

“Ketika motor Anda memiliki tenaga lebih besar maka penggunaan ban lebih boros juga,” tutur Joan Mir (Suzuki Ecstar).

“Kali ini, saya tidak melihat penurunan performa (dari pembalap Ducati) pada lap-lap terakhir, justru sebaliknya.”

“Mereka bahkan lebih kuat pada akhir lomba. Ini tidak mudah untuk dimengerti,” sambung pembalap yang pernah disusul dua Ducati sekaligus jelang finis.

Bukan Mir seorang yang memperhatikan keunggulan para pembalap Ducati dalam mengatur pemakaian ban.

Pembalap Red Bull KTM, Miguel Oliveira, sampai memberi analogi pembalap Ducati seolah-olah memakai ban baru sementara pembalap lain memakai ban lama.

Olivera dan Mir juga sependapat bagaimana ada banyak pembalap Ducati yang mampu tampil kompetitif pada musim lalu.

Dari enam penunggang Desmosedici, lima di antaranya mampu meraih hasil podium. Padahal karakter berkendara mereka berbeda-beda.

“Saya percaya Ducati, pembalap mereka, dan staf teknis telah menemukan cara untuk tiga-empat gaya berkendara yang berbeda,” tutur Oliveira.

Oliveira tidak melihat Ducati sebagai pabrikan yang tak terkalahkan. Bagi dia tidak ada yang namanya motor sempurna.

Meski begitu, Oliveira tidak menampik bahwa merepotkan juga kalau terlalu banyak pembalap Ducati menumpuk di posisi 10 besar.

“Kompetisinya sulit tentunya,” sambung Oliveira.

Ducati tahun depan akan menurunkan delapan pembalap dari empat tim berbeda: tim pabrikan Ducati, Pramac Racing, Mooney VR46, dan Gresini.

Siapakah yang bisa menandingi Ducati? Apakah konsistensi ala Quartararo kemarin cukup untuk memenangi perburuan trofi juara dunia?

Kompetisi akan mulai dipanaskan dengan tes pramusim yang berlangsung mulai bulan depan di Sirkuit Sepang, Malaysia, dan Sirkuit Mandalika, Indonesia.

Adapun seri pertama MotoGP 2022 akan diselenggarakan pada 4-6 Maret di Sirkuit Losail, Qatar.

Continue Reading

Balapan Motor

Adik Valentino Rossi Percaya Proyek VR46 di MotoGP Mampu Menjadi Besar

Published

on

By

Warungsports – Valentino Rossi tidak pensiun dengan meninggalkan sebuah legacy saja. Dia menurunkan timnya sendiri, VR46 Team pada MotoGP 2022.

VR46 Team di MotoGP merupakan tim yang didirikan Valentino Rossi untuk mengorbitkan para pembalap-pembalap yang tergabung di dalam Akademi VR46.

Oleh sebab itu, line-up VR46 Team diisi oleh Luca Marini dan Marco Bezzecchi.

Adapun VR46 Team juga bekerjasama dengan Ducati yang merupakan pabrikan Italia sebagai pemasok mesin.

Dalam menatap MotoGP 2022, Luca Marini merasa bisa membuat besar VR46 setelah bekerjasama dengan Ducati.

“Proyek baru Akademi VR46 bisa menjadi besar, dan dengan dukungan Ducati, saya harap kami dapat melakukan hal-hal hebat,” kata Marini, dilansir BolaSport.com dari Motosan.

“Lebih atau kurang tujuan musim ini adalah apa yang kami lakukan.”

“Saya tidak mengharapkan sesuatu yang istimewa, tapi saya pikir tahun depan kami bisa melakukan sesuatu yang spektakuler,” ucap dia melanjutkan.

Berbeda dengan Marco Bezzecchi yang akan melakoni debut pada MotoGP 2022, Luca Marini sudah di kelas utama pada musim lalu.

Debut runner-up Moto2 2020 itu tidak berjalan dengan gemilang. Pencapaian terbaiknya adalah finis ke-5 MotoGP Austria 2021.

Adapun Marini adalah satu-satunya penunggang motor Desmosedici pada musim lalu yang tidak naik podium sendiri.

Kendati begitu, Marini merasa telah melakukan adaptasi dengan baik yang akan ditunjukkan pada MotoGP 2022.

“Saya tidak mengharapkan begitu banyak perubahan dari Moto2 ke MotoGP, tetapi di sini adalah dunia yang sama sekali berbeda,” tutur Marini.

“Jadi sekarang saya telah memahami banyak hal dan itu jauh lebih baik.”

“Saya telah banyak berkembang dalam banyak aspek dan sekarang saya hanya perlu mengerjakan dua atau tiga detail kecil.”

“Ini adalah musim yang positif dalam perkembangan saya, sebagai pribadi maupun sebagai pembalap. Saya juga memiliki motivasi besar untuk tahun depan,” katanya meneruskan.

Marini lebih lanjut mengenang momen berkarier bersama dengan kakaknya, Valentino Rossi, pada MotoGP 2021.

Pembalap 24 tahun itu merasa beruntung bisa satu panggung dengan Rossi pada musim terakhirnya sebagai rider MotoGP.

“Sangat menyenangkan untuk berbagi musim terakhir bersama dia,” beber Marini.

“Saya sangat bangga bisa di MotoGP cukup awal untuk bisa menghabiskan waktu di lintasan bersama dia,” imbuhnya.

Selain Marini dan Bezzecchi, Francesco Bagnaia dan Franco Morbidelli yang merupakan bagian Akademi VR46 sudah pentas di MotoGP duluan.

Francesco Bagnaia dan Franco Morbidelli bahkan sudah mendapat kesempatan untuk berkarier di tim pabrikan, yang merupakan pencapaian besar bergabung di dalam tim.

Bagnaia berada di Ducati Lenovo, sedangkan Morbidelli akan tampil bersama Monster Energy Yamaha pada MotoGP 2022.

Continue Reading

Balapan Motor

Yamaha Dianggap Ducati Pesaing Terbesar di MotoGP

Published

on

By

Warungsports – Ducati menilai tinggi kekuatan Yamaha lewat performa apik Fabio Quartararo yang merebut gelar juara MotoGP tahun lalu.

Ducati sendiri ‘hanya’ mendapat gelar hiburan musim lalu dari kategori tim dan konstruktor pada MotoGP 2021.

Kesimpulan sederhana bisa diambil dari catatan itu. Ducati punya kuda besi terbaik, tetapi tidak demikian halnya soal joki terbaik.

Soal urusan pengembangan motor, Ducati memang salah satu yang terbaik di MotoGP dalam beberapa tahun terakhir.

Sang mastermind, yaitu General Manager Ducati, Gigi Dall’Igna, piawai mencari celah regulasi untuk menemukan margin sepersekian detik.

Dall’Igna pun mengaku puas dengan pencapaian Ducati musim lalu.

Kendati demikian, kegagalan meraih gelar juara dari kategori pembalap membuat kebahagiaan Dall’Igna tidak sempurna.

“Kami melakukan pekerjaan kami. Kami kompetitif lagi tahun lalu dan ini sangat penting bagi sebuah brand,” kata Gigi Dall’Igna, dikutip dari Speedweek.com.

“Tapi itu tidak benar bagi penggemar, bagi saya dan para pembalap, karena hanya gelar juara pembalap yang dihitung di sana.”

“Tetapi berada di posisi teratas selama bertahun-tahun sebagai sebuah pabrikan juga sangat berharga,” sambungnya.

Absennya sosok pembalap yang bisa memberi jaminan kemenangan membuat Ducati belum berhasil kembali menjadi juara.

Jika dahulu Ducati kerap dijegal Marc Marquez dari Honda, ancaman terbesar kini datang dari Fabio Quartararo dan Yamaha.

Dall’Igna melihat Yamaha adalah pesaing terbesar saat ini di MotoGP karena faktor Fabio Quartararo.

“Selalu sulit untuk membicarakan pabrikan lain, tapi saya pikir Yamaha adalah pesaing terbesar saat ini,” ujar Gigi Dall’Igna.

“Mereka memiliki pembalap bagus dalam diri Fabio Quartararo.”

Memiliki sosok pembalap terkuat tidak selamanya memberikan keuntungan. Salah-salah, pabrikan tersebut justru terperangkap dalam ketergantungan.

Honda contohnya. Mereka terjerembap dalam kekeringan prestasi semenjak Marc Marquez mengalami cedera serius.

Adapun Yamaha harus bekerja keras untuk memastikan bahwa Quartararo tak hengkang ke tim lain menyusul rumor yang berembus akhir-akhir ini.

Meski demikian, Dall’Igna melihat pada akhirnya gelar juaralah yang akan menentukan apakah kebijakan yang diambil tim benar atau salah.

“Mereka memenangkan gelar, itu membuktikan bahwa mereka benar,” tutur Gigi Dall’Igna.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 by WarungsSports