Live Wednesday, 29 July 2026
Sport Indonesia • Piala Dunia • Liga Eropa • MotoGP
Breaking
Atlet Indonesia

Kemenpora Mulai Memantau Kesejahteraan Atlet Berprestasi

Icha August 11, 2021 5 years lalu

Warungsports – Kesejahteraan atlet masih menjadi fokus peraih medali Olimpiade yang menerima hadiah uang. Kemenpora mulai memantaunya secara khusus.

Sebelumnya, Abdul Razak, mantan pendayung yang mewakili Indonesia di Olimpiade, dideskripsikan virus sebagai nelayan di atas perahu sederhana setelah pensiun.

Di tengah hebohnya para atlet olimpiade Indonesia peraih medali di Olimpiade Tokyo 2020, uraian ini kemudian menjadi fokus perhatian publik.

Menanggapi hal tersebut, Gatot S Dewa Broto, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, mengaku selama ini pihaknya lebih memperhatikan atlet yang masih produktif.

Berawal dari pembinaan anak-anak muda di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) dan Sekolah Luar Biasa Olahraga (SKO), hingga saat itu mereka berprestasi dengan baik, terutama di kompetisi internasional.

“Saat itu data kami lengkap. Kami akui ini. Sayangnya, apa masalahnya sekarang (terkait pemantauan atlet berprestasi), kami hanya memprediksi pada akhir 2020 di era Menpora Zainudin Amali. Caranya adalah bekerja sama dengan Telkom Create big data,” kata Gatot.

Big data, kata Gatot, salah satunya bertujuan untuk memantau atlet muda produktif hingga atlet yang sudah tidak produktif lagi (mantan atlet).

“Karena tidak usah jauh-jauh, kalau kita tanya data atlet-atlet berprestasi yang bernasib seperti itu di Olimpiade London 2012, kita mungkin akan kesulitan. Saya harus tanya ke empat rekan itu, dan kita akui itu. database kita tidak rapi. Sudah teratasi,” ujarnya.

Namun, proses big data saat ini masih dalam tahap pengembangan sistem aplikasi. Namun, sistem baru tersebut telah berdampak pada kebutuhan Olimpiade dan Paralimpiade.

“Nah, kita tidak memasukkan atlet yang sudah tidak produktif lagi. Kuncinya mencatat potret olahraga Indonesia, apakah berprestasi, unggulan junior, atau berprestasi.”

“Tapi sekarang kita mengandalkan media dan media sosial. Misalnya mantan pemain bulu tangkis Verawati Fajrin (dia sakit) karena media sosial. Tapi dengan big data, semuanya sudah siap. Ada laporan atau tidak, kita pantau. itu,” katanya. menjelaskan.

“Setidaknya meringankan masalah. Kalau tidak, seperti sekarang, itu hanya kejutan. Tapi kalau kita pantau, ‘Oh, ada atlet di Jayapura, seperti mantan atlet atletik atau ada banyak angkat besi di sana. Lampung. Kami sudah tahu bahwa kami telah diberitahu oleh publik dan diberitahu oleh netizen bahwa kami tahu apa yang harus dilakukan.”

Bahkan, jika tidak sepenuhnya difasilitasi, mungkin ada operasi bantuan.

“Kita harus melihat tingkatan-tingkatan prestasinya. Mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat, ada atlet juara di Porda atau PON, kalau sudah sampai tingkatan itu, tanggung jawab masing-masing Pemda. Tapi kalau yang masuk tingkatan internasional seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade, lalu single event itu kami harus punya alat untuk memonitoring mereka,” tuturnya.

Gatot lantas berharap Big Data sudah bisa digunakan secara optimal pada tahun depan. Karena, hal ini penting untuk mengetahui sejauh mana kesejahteraan para atlet.

“Karena ini juga bersangkutan dengan salah satu esensi dari revisi UU SKN yaitu masalahnya kesejahteraan atlet,” tegas Gatot.

Berita Terkait