Live Tuesday, 28 July 2026
Sport Indonesia • Piala Dunia • Liga Eropa • MotoGP
Breaking
Atlet Indonesia

Atlet BMX Indonesia Lakoni latihan Selama 3 Tahun di Belanda Demi Olimpiade Paris 2024

Icha August 15, 2021 5 years lalu

Warungsport Untuk mendapatkan hasil maksimal di Olimpiade Paris 2024, empat atlet BMX Indonesia Junior akan melanjutkan program pelatihan (TC) selama tiga tahun di Belanda. Atlet adalah Adiitya, Alfauzan, Jasmine Azzahra dan Amellys Nur Sifa.

Sekretaris Jenderal PB Issi Parama Nugroho menyatakan bahwa program pelatihan yang mirip dengan “Stagemp” adalah pertama kalinya dalam sejarah PB Issi. Oleh karena itu, ia berharap para atlet tidak akan kehilangan kesempatan dan akan fokus pada praktik penampilan dan keterampilan mereka di Belanda, yang merupakan tempat kelahiran para atlet balap sepeda kelas dunia.

“Di Eropa, ada begitu banyak kejuaraan. Sementara itu, Asian Sea Games telah dibatalkan. Jadi, betapa tidak adil jika kita tidak mengirim atlet kita di Eropa. Anak-anak harus selalu merebut poin Olimpiade, mempercepat proses kualifikasi (Olimpiade) karena mereka segera berpotongan dengan kompetisi, “kata Parama pada konferensi pers virtual di Jakarta, Sabtu (14/8/2021).

“Mereka siap bersaing ketika mereka menghabiskan Olimpiade Paris 2024 dan, mudah-mudahan, akan dapat menyadari ketika di Olimpiade Los Angeles 2028,” tambahnya.

Belanda itu dipilih sebagai negara yang memiliki stacamp, karena memiliki fasilitas olahraga dan sirkuit kelas internasional, yang juga merupakan tempat praktik atlet balap sepeda kelas dunia.

Tidak hanya itu, Belanda telah menjadi salah satu negara terbaik di dunia untuk balapan sepeda. Di Olimpiade Tokyo 2020, misalnya, kincir angin memenangkan medali perunggu dalam kategori BMX Princess dan Medali Emas BMX pria dengan berlatih hanya sirkuit supercross mereka di Papancal.

Selain pelatihan di Belanda, atlet Indonesia juga harus mengikuti berbagai kejuaraan BMX di Eropa, mulai dari Kejuaraan Seri C1, seri Eropa, Piala Dunia dan Kejuaraan Dunia. Hasil dari sana akan menjadi referensi untuk kemampuan dan jam penerbangan atlet di seluruh dunia.

“Kita tidak boleh menghitung secara independen tentang kompetisi nasional, tetapi juga harus melanjutkan kejuaraan ke luar negeri,” kata Parama.

Berita Terkait